Kamis, 24 Maret 2011

Ada yang Mau Membantu PSM Undip?

JAKARTA, Kompas - Paduan Suara Mahasiswa Universtas Diponegoro (PSM Undip) berharap uluran tangan para alumni dan masyarakat Indonesia untuk membantu anggotanya, Muhammad Febriyanto (21), yang sedang terkena musibah di Vietnam. Di negara tersebut, kontingan PSM Undip baru saja meraih juara umum pada "1st Vietnam International Choir Festival", 16-19 Maret di Hoi An.
Dalam siaran persnya pihak PSM Undip mengungkapkan, pada 12 Maret 2011-21 Maret tim tersebut mengikuti "1st Vietnam Internasional Choir Festival & Competition" di Hoi-An, Vietnam. Tim berangkat mewakili universitas, yaitu Undip, Provinsi Jawa Tengah, serta Indonesia.
Dengan segala keterbatasan yang ada, tim Undip berangkat dengan harapan bisa mengharumkan nama Indonesia dan almamaternya. Mulai dari proses yang begitu panjang, baik itu persiapan perlengkapan, fasilitas, dan kondisi finansial seadanya, kontingen PSM Undip tetap gigih untuk berangkat mengikuti festival tersebut.
Selama enam bulan terakhir ini, tim PSM Undip mampu meraih 4 predikat di 4 kategori, yaitu Champion Winner with Gold Medal Mixed ChoirChampion Winner Gold Medal Female Choir, Gold Medal folksong, dan Silver Medal Sacred choir. Puncaknya, tim Undip sukses menggondol predikat Champion of Champion atau juara utama di festival tersebut. Tim ini berhasil mengalahkan peserta dari beberapa negara asal Asia dan Eropa.

Namun, di balik hadiah indah tersebut, tim PSM Undip mendapatkan cobaan yang cukup berat dan sampai saat ini belum bisa mereka lewati. Ketua kontingen mereka, Muhammad Febriyanto, mahasiswa Jurusan Gizi angkatan 2007, jatuh sakit. Febri harus dirawat di ICU salah satu rumah sakit di Da Nang. Ia didiagnosa menderita radang selaput otak dan pneumonia atau radang paru-paru.
Terhitung, sampai saat ni biaya yang diperlukan berkisar Rp 100 juta itu pun hanya untuk biaya pengobatan di Vietnam saja. Dua rekan Febri dari PSM Undip yang pun kebingungan karena biaya untuk hidup sehari-hari di Vietnam tidak ada.
Sejauh ini, pihak KBRI hanya bersedia memfasilitasi tiket kepulangan tiga anggota PSM Undip, termasuk Febri. Tetapi, untuk biaya rumah sakit yang tidak sedikit dan juga fasilitas-fasilitas kesehatan lainnya, belum ditemukan jalan keluar.
"Untuk itu kami ingin mengetuk hati para alumni, pemangku jabatan dan masyarakat yang sedianya mampu dan berkenan membantu masalah yang sedang kami hadapi ini. Karena tanpa kegigihan Febri dalam memimpin dan berjuang sehingga mampu berangkat ke Vietnam, kami tak akan bisa mengharumkan nama bangsa," ucap Jimmy Aritonang, anggota PSM Undip dalam siaran pers yang dikirimkan ke Kompas.com, Selasa (22/3/2011).
Disebutkan, pihak KBRI dan pihak Rektorat UNDIP tak bisa membantu banyak untuk masalah tersebut. Sementara itu, orang tua Febri hanya pengusaha pesanan roti kecil-kecilan di kampungnya di Pekalongan dan sangat bingung dengan cobaan yang berat yang menimpa anaknya itu.
Seperti diberitakan di Kompas, Rektor Universitas Diponegoro Semarang Sudharto P Hadi sedang mengupayakan pemindahan perawatan Febri dari Da Nang ke Ho Chi Minh. Harapannya, pemindahan tersebut memberikan penanganan yang lebih baik bagi Febriyanto.
"Soal biaya, nanti kami tanggung sama-sama antara Undip dan KBRI," ucap Sudharto.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar