Selasa, 30 November 2010

"Bung Sultan" yang Demokratis

KOMPAS - ”Saya tidak ingat persis lagi kapan dan bagaimana saya sampai menyebut ’Bung’ saja untuk kata diri Sultan. Dan rupa-rupanya Sultan Hamengku Buwono IX menganggap sikap saya itu wajar pula. Dia tidak keberatan sama sekali apabila saya panggil sebagai ’Bung’. Juga kalau saya berbicara dengan Sultan, percakapan itu biasanya dilakukan dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Belanda, tidak pernah dalam bahasa Jawa. Jadi, segala sesuatu berlangsung secara demokratis”.

Judul dan alinea pembukaan ini dikutip dari tulisan wartawan senior H Rosihan Anwar dari bukuTahta untuk Rakyat.
Jiwa demokratis dan kenegarawanan HB IX memang unik, tetapi bisa dijelaskan dengan membaca riwayat hidup serta peran yang dimainkan dalam perpolitikan ketika masa pemerintahan Belanda dan setelah Indonesia merdeka. Nilai-nilai demokratis HB IX sangat jauh dari watak feodal. Melalui kepribadian yang memancar sangat kuat, HB IX berhasil membentuk pemerintahan DIY menjadi pelopor sistem pemerintahan demokratis yang kini dikembangkan pemerintahan SBY. Bagaimana bisa?

HB IX lahir pada tahun 1912 dengan nama Dorodjatun. Sejak usia sekolah dasar ia dititipkan (mondok) pada keluarga Belanda. Ia pernah tinggal di keluarga Mulder di Gondomanan, Yogyakarta, lalu keluarga Belanda di Semarang, dan terakhir bersekolah di Bandung sebelum berangkat ke Belanda. Di negara ini ia belajar di Fakultas Indologi, Rijksuniversiteit, Leiden. Suasana ini, antara lain, membuat HB IX mempunyai sikap egaliter dan demokratis. Apalagi dalam keseharian, ia juga bergaul dengan teman-teman sekolah tanpa ada pembedaan atau pengawalan dari Keraton.

Sebelum kemerdekaan tahun 1945, ide tentang demokrasi sudah dikenal Dorodjatun, terutama saat harus berunding dengan pemerintahan kolonial Belanda yang diwakili Gubernur Jenderal L Adam. Misalnya, dalam memutuskan soal Dewan Penasihat.

Adam pada tahun 1940 mengusulkan agar separuh anggota ditunjuk Gubernur Belanda dan sisanya ditunjuk Sultan. Usul ini ditolak Dorodjatun dan dia mengusulkan tandingan, yaitu diadakan Dewan Penasihat yang semua anggotanya dipilih rakyat secara langsung dan mereka harus mempunyai kebebasan berbicara sebagai wakil rakyat.

Sejarawan PJ Suwarno dalam disertasinya, Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan Yogyakarta 1942-1974, menyatakan, secara lugas Dorodjatun (HB IX) mengemukakan pemikirannya tentang demokrasi yang memberikan keleluasaan kepada wakil rakyat berbicara menyuarakan kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Reformasi birokrasi yang dilakukan HB IX dalam pemerintahannya merupakan tambahan bukti betapa kekuasaan yang dimiliki Dorodjatun semata-mata untuk kesejahteraan rakyat. Salah satu yang utama secara internal dalam kerajaannya, ia menghapus kedudukan Pepatih Dalem agar dapat langsung berkomunikasi dengan rakyat tanpa melalui perantara. Lembaga Pepatih Dalem ada sejak HB I. Pada tanggal 14 Juli 1945 Dorodjatun menghapus lembaga Pepatih Dalem agar semakin dekat dengan rakyatnya.

Pembaruan pemerintahan lain yang dilakukan HB IX adalah mengajarkan kepada rakyatnya untuk hidup secara demokratis. Sultan mengeluarkan Maklumat No 7/1945 tentang Pembentukan Perwakilan Rakyat Kalurahan yang diyatakan mulai berlaku pada tanggal 6 Desember 1945. Maklumat ini memerintahkan supaya di setiap kalurahan di DIY dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Kalurahan (Dewan Kalurahan).

Alasan Sultan mengeluarkan maklumat itu untuk menampung hasrat dan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat yang diatur oleh UUD 1945.

Memang aneh kalau ada presiden yang mempermasalahkan tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan dengan demokrasi di Yogyakarta. Sejarah mencatat, jauh sebelum Indonesia mengenal demokrasi, Kasultanan Yogyakarta sudah melakukan reformasi birokrasi dan demokratisasi.
Kompas Cetak
Sumber :
Editor: Jimmy HitipeuwDibaca : 7173
Sent from Indosat BlackBerry powered by

Habibie dan Cinta Sejati

Selasa malam 30 November ini, Bacharudin Jusuf Habibie meluncurkan buku "Habibie & Ainun" yang disebut sejumlah kalangan sebagai buku tentang cerita cinta abadi dua anak manusia. Kehidupan penuh cinta pasangan Habibie dan Hasri Ainun memang bisa menjadi bahan ajar menarik untuk keadaan sosial kini yang terlalu dimabuk kabar selingkuh, cerai, sensasi syahwat dan birahi.
Mereka menguak kisah cinta sejati dan kesetiaan yang membangkitkan takjub, selain menjadi cermin kepada siapa keluarga-keluarga berkaca. Kesetiaan tiada koma dari sang ilmuwan cemerlang kepada istrinya itu, telah menegaskan bahwa cinta abadi itu ada. Ketulusan cinta Habibie-Ainun dan keromantisan mereka mungkin seindah kuasa cinta yang membalut perjalanan kasih Roro Mendut dan Pronocitro, Laila dan Majnun, Mumtaz Mahal dan Shah Jehan, Guinevere dan Lancelot, Scarlett O’Hara dan Ashley Wilkes, atau pasangan dalam roman-roman lainnya.

Tentu saja kisah cinta Habibie-Ainun tak setragis kisah dalam roman-roman itu. Freddy Mercury, vokalis band legendaris Queen, hanya bisa bersenandung cinta sejati dalam lagunya, "I was born to love you/With every single beat of my heart// Yes, I was born to take care of you/Every single day of my life// You are the one for me/I am the man for you// You were made for me//"
Habibie juga melantunkan kidung amor seperti Freddy, dengan berkata, "Ainun tercipta untuk saya, dan saya tercipta untuk Ainun." Tapi Habibie lebih dari itu, karena untaian syair indah itu dia terjemahkan dalam laku keseharian kepada sang pasangan hati.
"Cinta mereka tidak pernah berkurang, justru terus bertambah," kata buah hati mereka, Thareq Kemal Habibie, kepada satu televisi nasional beberapa waktu lalu. Mereka melihat satu sama lain secara mendalam, tak hanya dari eloknya paras, indahnya lekuk tubuh atau merdunya suara. Sebaliknya, mereka memaknai wajah mereka sebagai nilai-nilai dari mana keluarga harmonis ditata.
Mereka seolah melanggamkan puisi pujangga besar William Shakespeare, "Di wajahmu Aku lihat kemurnian, kebenaran, dan kesetiaan." Di tengah dunia yang dibalut glamor, seksualitas ekstrem, pemujaan benda, dan pernikahan berimamkan nafsu, dua sejoli itu mempertontonkan cinta sejati yang mempesona nan menggetarkan. 

Cinta sejati


Kesetiaan Habibie mengingatkan pada salah satu kisah kasih agung di era modern, antara dua ilmuwan brilian, Pierre Curie dan Marie Sklodowska Curie. Sebagaimana Habibie dan Ainun, Pierre dan Marie dipersatukan oleh cinta. Keduanya tak saling mencari untung, tak pula saling menuntut, apalagi memanipulasi kelebihan, pencapaian dan kedudukan pasangannya. 
Mereka bersenyawa menjadi ekajiwa dwitubuh karena menganggap satu sama lain sebagai belahan jiwa.
Pesona cinta memang menyentuh kalbu semua orang, dan manakala itu merasuk pada dua anak manusia yang ikhlas berbagi rasa dan dipersatukan oleh ketertarikan sama, maka hidup menjadi lebih berbunga. Itulah yang dirasakan Marie dan Pierre, dan mungkin pula dinikmati Habibie dan Ainun, serta semua pasangan sejiwa lainnya. Adalah kecerdasan dan ketekunan Marie yang membuat Pierre jatuh hati. Setelah beberapa kali gagal dipinang Pierre, perempuan Polandia itu menerima cinta Pierre dan berlanjut ke pernikahan pada 1895. Pernikahan itu kian menyatukan mereka, hingga bermitra demi sains.
Masa-masa sulit berhasil mereka lalui, karena mereka selalu berbagi, saling mengisi dan merasa saling membutuhkan. Sukses akhirnya mereka capai pada 1898 setelah menemukan polonium dan radium. Untuk upayanya itu, mereka, bersama Antoine Henri Becquerel, dianugerahi Nobel Fisika pada 1903.
Hidup Marie berantakan setelah Pierre meninggal dunia pada 1906. Tapi, cintanya yang tak pernah padam pada suami, membuat Marie bangkit menapaki jalan yang diretas belahan jiwanya untuk menjadi profesor fisika dan meraih lagi Nobel kimia pada 1911. Namun, di tengah kesuksesan itu, Marie tetap merindukan Pierre. Marie merasa dia adalah Pierre, dan Pierre adalah dia. Pada 1934 Marie menyusul Pierre ke alam baka karena leukemia.
Seperti Marie, Habibie juga amat kehilangan belahan jiwanya, seolah setengah hatinya terenggut.
Habibie mengatakan tak akan melewatkan sehari pun berziarah dalam masa 40 hari setelah wafatnya sang istri. Sungguh satu ungkap kesetiaan mendalam dari seorang pecinta sejati.
Habibie seolah mendeklamasikan puisi pujangga besar Persia, Jalaluddin Rumi, "Aku mungkin bisa menutup bumi dengan taburan melati/ Aku dapat saja memenuhi samudera dengan tangisan/ Aku bisa saja mengguncang surgawi dengan pepujian/ Tapi tak satu pun dari semua itu dapat meraihmu."

Ideal
Habibie-Ainun adalah gambaran otentik mengenai wujud doa setiap pasangan nikah untuk hadirnya keluarga harmonis yang dibalut kesetiaan. Habib Ali Almuhdar, guru mengaji Keluarga Besar Habibie, berkata, "Keluarga Habibie adalah keluarga sakinah mawaddah warohmah." Artinya, keluarga itu senantiasa diliputi kasih sayang dan menjalankan perintah Tuhan sehingga selalu dilimpahi rahmat-Nya.
Habibie-Ainun, serta keluarga-keluarga lain seperti mereka, merekatkan ikatan keluarga di atas fondasi saling menyadari dan mengakui perbedaan-perbedaan mereka. Mereka bersatu menjadi dua belahan jiwa yang bersenyawa dalam satu tubuh di mana sang perempuan menutup ketaksempurnaan emosi pria, sebaliknya kesenjangan nalar pada perempuan ditutup sang pria. Jika keadaan itu membawa keutuhan kepada keduanya, maka kebersamaan mereka adalah perkawinan sejati antardua sejiwa sehati.
Mengutip para pakar spiritual, tatkala jiwa-jiwa seperti itu menyatu, pikiran-pikiran tentang seks tak lagi dominan. Sebaliknya, makin dominan persatuan seks, makin hambar sebuah persenyawaan spiritual. Jika persenyawaan spiritual itu kian kuat, maka dua jiwa itu kian rapat menyatu. Inilah level di mana perkawinan sejati antardua belahan jiwa telah tercipta, sebagai mana Tuhan rencanakan untuk setiap manusia.
Mungkin pasangan-pasangan seperti ini adalah kakek nenek dan bapak ibu Anda. Mereka adalah kepada siapa Anda bisa mengambil pelajaran mengenai kesetiaan, keiklasan, cinta, harmoni dan keluarga. Merekalah teladan hidup yang ideal, bukan kabar kawin cerai yang rabun makna, timpang pesan, dan gemar menggugat institusi pernikahan dengan argumentasi amat materialistis, dangkal, dan artifisial. Anda akan sangat beruntung memiliki bahan ajar dari keluarga-keluarga yang dirajut kuat oleh cinta sejati seperti ditenun Habibie dan Ainun.
ANT
Sumber :

Senin, 29 November 2010

YOGYAKARTA MONARKI (SBY Harus Segera Klarifikasi!)

JAKARTA, KOMPAS — Mantan anggota Komisi II DPR RI Ferry Mursyidan Baldan menyayangkan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengibaratkan kondisi keistimewaan Yogyakarta sebagai bentuk monarki. Ferry meminta SBY segera melakukan klarifikasi atas pernyataannya tersebut.
"Selama ini Sultan sebagai kepala daerah bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah menjalankan tugas, peran, dan fungsi sebagaimana kepala daerah lainnya. Bahkan kewajibannya. Perangkat DIY sebagai provinsi pun tidak berbeda, ada sekretaris daerah, kepala dinas, pengawasan DPRD, adanya peraturan daerah sebagai produk legislatif, dan penyusunan APBD. Jadi, DIY sama sekali bukan sebuah 'monarki' DIY, tapi sebuah provinsi," katanya kepadaKompas.com, Selasa (30/11/2010).

Menurut Ferry, yang berbeda hanyalah penetapan kepala daerah. "Namun, bukankah pengaturan tentang kepala daerah pun sudah mendapat legitimasi oleh negara? Jika pernyataan SBY bermaksud mempersoalkan tata cara penetapan kepala daerah, maka pernyataan tersebut berdampak jauh dalam konteks NKRI karena pernyataan tentang monarki seolah menempatkan DIY bukan bagian dari NKRI," kata Ferry.
Pernyataan SBY tentang keistimewaan DIY, sambung Ferry, seolah mengabaikan pesan konstitusi tentang kekhususan dan keistimewaan. "Mengibaratkan keberadaan keistimewaan DIY sebagai monarki dalam NKRI tentu saja menghenyakkan kita semua dan mengganggu spirit ke-NKRI-an DIY adalah salah satu provinsi dalam negara Indonesia. Ada sejarah yang telah kita lalui," kata Ferry.

Pernyataan Yogya Monarki Sakiti Rakyat

JAKARTA, KOMPAS — Mereka yang beranggapan bahwa monarki Yogyakarta bertentangan dengan demokrasi, telah menyakiti rakyat. Pernyataan seperti itu tidak sesuai dengan fakta sejarah.
”Yogyakarta telah menyelamatkan RI di masa-masa sulit tatkala penguasa negeri ini lahir saja belum. Saat baru berdiri, Republik hampir ambruk karena Belanda datang lagi. Sultan menawarkan ibu kota pindah ke Yogyakarta dan Republik terus berlanjut,” papar guru besar emeritus administrasi pemerintahan dan sosiologi dari Universitas Airlangga Surabaya, Soetandyo Wignyosoebroto, Senin (29/11/2010).

Sebelumnya, beberapa media memberitakan, terkait penyusunan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat membuka rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (26/11/2010), menyatakan, nilai-nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, tidak boleh ada sistem monarki yang bertabrakan, baik dengan konstitusi maupun dengan nilai-nilai demokrasi.
Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah Velix Vernando Wanggai kepada Kompas kemarin mengemukakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam RUUK Keistimewaan Yogyakarta, masih belum menetapkan peranan Sultan sebagai kepala daerah atau gubernur, atau tetap sebagai Sultan.
Prinsip yang dipegang Presiden Yudhoyono, kata Velix, adalah mewujudkan format dan konstruksi kelembagaan daerah yang arif guna menggabungkan warisan tradisi Keraton dengan sistem demokrasi yang telah berkembang selama satu dekade di era reformasi ini.
”Karena itu, tidak ada maksud untuk membenturkan konteks sejarah dan tradisi dengan sistem demokrasi dan hukum,” ujar Velix.
Namun, Sultan Hamengku Buwono X justru mempertanyakan draf RUUK DIY yang diajukan pemerintah kepada DPR, apakah itu justru bukan bernapaskan sistem monarki? Ia menunjukkan, di dalam draf RUUK DIY itu Sultan HB X dan Paku Alam yang bertakhta akan menduduki jabatan baru, yaitu Parardhya, yang memiliki beberapa kewenangan khusus.
”Di dalam draf RUUK pemerintah, Sultan dan Paku Alam ada di dalam institusi Parardhya, yang mendapatkan hak imunitas, ini berarti tidak bisa dijangkau hukum, apakah itu tidak bertentangan dengan konstitusi? Apakah itu demokratis atau malah monarki?” katanya.

Minggu, 28 November 2010

SPESIES BARU : Ikan Tak Bermata dari Papua...

KOMPAS - Ikan tak bermata dan katak yang membawa telur di bagian punggungnya adalah dua dari beragam jenis spesies baru yang ditemukan di sebuah gua di Papua.

Tim peneliti dari Institute Research and Development (IRD) di Montpellier, Perancis menemukannya dalam rangkaian ekspedisi penelitian di gua, sungai bawah tanah hingga hutan belantara di wilayah Lengguru, bagian selatan wilayah leher burung Papua.
"Dalam hal penemuan hal baru, ada banyak hal yang harus diselesaikan di daerah itu, daerah yang sangat sulit untuk diakses tetapi memiliki keragaman hayati yang mengagumkan," kata salah seorang ilmuwan dari IRD, Laurent Pouyaud, dilansir AFP, Jumat (26/11/2010).

Para ilmuwan yang terdiri dari biolog, paleontolog dan arkeolog menelusuri wilayah penelitian tersebut selama tujuh minggu. Wilayah itu dikatakan merupakan labirin tanah kapur yang memungkinkan spesies yang tinggal mengalami isolasi selama jutaan tahun lamanya. 

Ikan yang tak memiliki mata serta tak berwarna karena tidak mengalami pigmentasi (produksi pigmen yang menentukan warna kulit) yang ditemukan di salah satu gua adalah penemuan yang paling mengagumkan. "Ikan ini, sepengetahuan kami, merupakan jenis ikan gua pertama yang ditemukan di wilayah Papua," kata Pauyaud. 

Sementara para biolog terpesona oleh ikan tanpa mata, para arkeolog juga terpikat oleh temuan lukisan di dinding gua yang dibuat dari alat berbahan cangkang hewan. Temuan tersebut bisa menjadi bukti adanya migrasi orang-orang Asia ke Australia sekitar 40.000 tahun yang lalu. 

Penelitian ini merupakan langkah pertama dari sebuah proyek yang direncanakan akan mempelajari keragaman hayati di wilayah Indonesia. Riset tersebut merupakan kerjasama Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan perguruan tinggi sains. 

Pouyaud mengatakan, keanekaragaman hayati di Papua sendiri saat ini terancam oleh rencana perluasan lahan perkebunan dan tambang.

Sabtu, 27 November 2010

Yang Penting Pola Pikir dan Berani "Cuap-cuap"

JAKARTA, KOMPAS - Membangun skil entrepreneur tidak sekaligus dengan langsung menciptakan sebuah usaha baru atau menjual produk, apalagi yang dibutuhkan adalah entrepreneur handal berbahasa Inggris. Menanamkan pola pikir entrepreneur dan keberanian "cuap-cuap" rasanya lebih baik.

Demikian diungkapkan Center Director Wall Street Institute (WSI) Yusuf Seto di acara final program Social Club-Entrepreneurial Xperience WSI di WSI Ratu Plaza, Jakarta, Kamis (25/11/2010) malam. Program Social Club-Entrepreneurial Xperience tersebut, kata dia, merupakan rangkaian kegiatan presentasi produk bisnis yang disampaikan dalam bahasa Inggris.

"Bukan bicara apa yang dijual, tapi bagaimanastudent memiliki keberanian mengembangkan peluang bisnis baru sambil tetap melatih keberaniannya berbahasa Inggris," ujar Yusuf. 
Yusuf menuturkan, para siswa diharuskan membentuk tim untuk membuka sebuah peluang bisnis baru. Hanya, bisnis tersebut punya relasi yang kuat dengan kemampuan berbahasa.
"Juri menilai berdasarkan kreativitasnya, inovasi produk, serta kepercayaan diri mereka dalam mempresentasikan ide-ide produknya itu di hadapan juri dan penonton dalam bahasa Inggris," kata Yusuf.
Tim dari WSI Central Park, misalnya. Tim tersebut menawarkan ide "World of Words", yaitu sebuah alat simulasi kata-kata berbahasa Inggris yang terbuat dari kalender kertas daur ulang.
Lain halnya tim dari WSI Ratu Plaza. Tim ini menyajikan ide bisnis yang mereka namakan dengan "Learn Mate", yaitu sebuah kacamata yang mampu memfilter (scan) nama sebuah benda dan menerjemahkannya langsung ke dalam bahasa Inggris.
"Ide-ide ini lahir dari para siswa dan meskipun relatif ide simpel ternyata banyak yang menarik dan secara kacamata bisnis sangat prospektif dikembangkan," timpal Dini Surono, pengusaha muda yang didapuk menjadi juri.
Keluar sebagai pemenang pertama malam itu adalah tim WSI Central Park dengan produk bisnisnya, "World of Words", yang disusul di tempat kedua oleh WSI ratu Plaza dengan "Learn Mate", ketiga dari dari WSI La Piazza dengan produknya "Totti", dan keempat oleh tim dari WSI Pondik Indah dengan inovasinya berupa produk software "Hype".
"Sekali lagi, yang harusnya ditekankan itu adalah keberanian mereka untuk membuat bisnis baru dan berbicara di depan orang banyak dengan bahasa Inggrisnya, bukan apa yang harus dia sajikan," lanjut Yusuf.

Kamis, 25 November 2010

ANDIEN - Kirana Full Album

Track List:
01. Moving On
02. Gemilang
03. Keraguan
04. Pulang
05. Cerita Kita
06. Kirana
07. Kusadari
08. Salahku
09. Bimbi
10. Cinta

Download Full Album


Rif – 7 [Full Album]




















andy /rif ovy /rif jiks /rif magi /rif

/rif (rhythm in freedom) adalah grup band Indonesia yang didirikan di Bandung, Jawa Barat. Personel /rif adalah Andy (vokal), Iwan (bas), Adji (gitar), Maggi (drum), dan Ovy (gitar). Sampai saat ini /rif telah menelurkan 6 album musik dengan satu album berisi kumpulan lagu terbaik dari /rif.


Track List RIF-7:
01. Awan Hitam
02. Pelangiku Sirna
03. First Kiss
04. Rock N Roll Fantasy
05. Fight
06. Son
07. Green Song
08. 1

Download Full Album


Pesona Model Seksi Berlengan Buntung

VIVAnews - Tanja Kiewitz, seorang model asal Belgia mencuri perhatian publik setelah berposetopless di koran Global Post. Bukan semata-mata berani memamerkan bagian tubuh atasnya, Kiewitz mencuri perhatian karena kondisi tangan kirinya yang buntung.

Aksi itu adalah bagian dari kampanye AP48, sebuah organisasi nonprofit yang bekerja untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu penyandang cacat di Belgia dan Prancis. Selain foto Kiewitz, dalam iklan kampanye tersebut juga tertulis, "Look me in the eyes... I said the eyes."

Pose Kiewitz memang sangat berani. Dengan tatapan penuh percaya diri, wanita 35 tahun itu berpose hanya mengunakan bra hitam. Ia menatap tajam ke arah kamera langsung, sambil menyunggingkan senyum cantik.
Kampanye iklan ini tersebut sangat sukses dan berhasil mengumpulkan dana lebih dari €4 juta atau hampir Rp50 miliar. Jumlah itu 10 persen lebih banyak dibanding kampanye penggalangan dana tahun sebelumnya.

Menurut Global Post, Kiewitz telah menjelma bintang dalam semalam. Aksi yang dipublikasikan akhir bulan lalu itu, membuat popularitasnya melejit. Ia pun dibanjiri permintaan wawancara dari sejumlah media di Eropa. Kru dari majalah dan TV di Eropa juga memburu desainer grafisnya.

"Reaksinya sangat luar biasa. Aku juga telah 'dikepung' di Facebook. Sebagian besar reaksinya sangat bagus, benar-benar umpan balik yang positif. Banyak jurnalis dari seluruh dunia menghubungiku dan itu sedikit gila," kata Kiewitz, seperti dikutip Daily Mail.

Ida Kusumah Meninggal....

JAKARTA, KOMPAS — Berita meninggalnya Ida Kusumah (71) ditanggapi beragam oleh para penggemar "sinetron tanpa ujung" Cinta Fitri. Mereka umumnya mengaku bersedih karena tokoh Oma yang diperankan Ida sungguh bisa mewakili emosinya saat menonton sinetron itu.
"Tanpa Oma Ida, pasti enggak serulah Cinta Fitri," kata Ema, ibu dua orang anak yang rajin menonton Cinta Fitri itu. Soalnya, dia menambahkan, tanpa kehadiran Oma, tak akan ada lagi berbagai ungkapan khas Sunda yang bikin orang tertawa-tawa puas, seperti borokokok dan balakaciprut.
"Dan enggak ada lagi yang bakal nggamparin Mischa yang super-pikaseubeuleun pisan tea,"katanya kepada Kompas.com, Kamis (25/11/2010) malam, saat diminta komentarnya atas kepergian Ida Kusumah untuk selama-lamanya.

Menurut penggemar berat Cinta Fitri itu, tidak akan ada lagi pemain lain yang bisa menggantikan peran Ida di sinetron yang banyak dinilai membodohi masyarakat tetapi tetap diikuti terus, bahkan oleh orang yang merasa dibodohi itu.
"Soalnya tokoh Oma sudah melekat bertahun-tahun. Jadi jangan diganti. Tokoh Oma diudahinsaja," lanjutnya.
Yanti, penggemar lain Cinta Fitri, juga setali tiga uang. Menurut dia, "Si Oma teh yang paling gigih membela Fitri. Soalnya yang lain perannya rada plinplan," katanya.
Ia kemudian menilai satu per satu tokoh dalam sinetron itu. Si maminya, papinya, bahkan si Farrel-nya (suami Fitri), menurut Yanti, ya begitu-begitu saja. Beda dengan Oma yang mampu mewakili emosi penonton. 
Kesimpulannya, kata dia, akan ada peran yang hilang, yakni peran si pembela Fitri, yangsuperjutek ke si Mischa. "Sehingga bakal enggak seru lagi bila tidak ada yang menggantikan peran si Oma sebagai pembela Fitri," katanya.
Penulis: EDJ   |   Editor: Marcus Suprihadi   |  

Senin, 22 November 2010

Sule Prikitiew Full Ambum

Track List:
01. Susis
02. Prikitiew Bye Bye
03. Be Happy
04. Bola Salju
05. Memendam Rasa
06. Kahayang Keukeuh
07. Senyumlah Ibu
08. Sinyal Cinta
09. Si Koboy

Download Full Album

Kotak - Energi Full Album

Track List:
01. Terbang
02. Pelan Pelan Saja
03. T.O.P
04. Kerabat Kotak
05. Selalu Cinta
06. Cuci Mata
07. Cinta Jangan Pergi (CJP)
08. Energi
09. Ku Ingin Sendiri

Download Full Album




Minggu, 21 November 2010

Busana Muslim Indonesia Lebih Kreatif

KOMPAS Diakui oleh mantan Miss Malaysia, Dato' Yasmin Yusuff, dan perancang busana muslim wanita asal Indonesia, Jenny Tjahjawati, desain busana muslim Indonesia lebih kreatif dan berani. Hal ini diungkapkan oleh keduanya kepada Kompas Female, hari ini, Jumat, 12 November 2010, seusai rangkaian sesi pertama peragaan busana dalam Islamic Fashion Festival 2010 yang berlangsung di Ballroom Hotel JW Marriott, Kuala Lumpur.
Di waktu terpisah, keduanya sepakat bahwa rancangan busana desainer Indonesia lebih kreatif dan berani. "Rancangan perancang Indonesia lebih berani memadupadankan detail. Sangat berani untuk menggunakan detail. Pays attention to details. Hal ini mungkin merefleksikan masyarakat Indonesia itu sendiri, yang artistik, kreatif, dancultured," urai Dato' Yasmin Yusuff, yang juga berlaku sebagai pembawa acara beberapa sesi ajang ini, sambil bergantian mengenakan busana dari perancang yang berpartisipasi.


Senada dengan Dato' Yasmin Yusuff, salah satu perancang Indonesia yang turut memamerkan busananya hari ini, Jeny Tjahyawati, mengatakan, "Cutting desainer Indonesia lebih berani dan lebih senang bereksperimen. Saya sendiri banyak bermain dengan draping serta permainan detail manik-manik dan payet."
Keduanya juga sepakat bahwa garis rancangan pakaian muslim Malaysia lebih cenderung memilih busana kaftan, yang longgar, dan tak terlalu membentuk badan. "Sepertinya ini ada faktor keturunan juga. Orang Malaysia banyak yang datang dari keturunan Timur Tengah sehingga banyak suka kaftan, sementara di Indonesia lebih bercampur, dan seleranya juga percampuran," terang Jeny yang membawakan koleksi bertema "Migration: Romantic Return", sore ini.

"Menurut saya, mengapa orang Malaysia lebih memilih menggunakan pakaian model kaftan adalah karena budaya kami. Pakaian nasional kami, baju kurung dan kebaya cenderung, seperti itu, saya rasa. Karena itulah kami lebih banyak yang memilih pakaian muslim model itu. Bahan-bahan yang melayang, longgar, terasa lebih dingin karena cuaca di sini panas," ucapnya.
"Sementara itu, perancang Indonesia lebih suka mendesain pakaian yang lebih pas tubuh dan ber-layer. Seperti salah satu busana dari perancang Indonesia yang saya kenakan beberapa hari lalu, yang terdiri dari setidaknya 5 layer, itu membuat saya berkeringat. Namun, busana Malaysia yang cenderung senang kaftan ini juga menurut saya kurang baik untuk kesehatan. Wanita yang senang mengenakan busana longgar cenderung cuek dengan bentuk tubuhnya karena ia tahu ia bisa menutupi tubuh membesar dengan busana lebar," cerita Dato' Yasmin Yusuff yang juga akan membawa acara gala dinner IFF yang rencananya akan dihadiri pula oleh HM Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong, HRH Tengku Puan Pahang, dan HRH Raja Puan Muda Perak di Ballroom JW Marriott, Kuala Lumpur.

HIBAH DANA PENDIDIKAN 165,6 Juta Dollar AS

JAKARTA, KOMPAS — Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang cukup besar memberikan dana hibah untuk pendidikan di Indonesia di antara beberapa negara yang baru saja menandatangani kerja sama dengan Indonesia hingga totalnya mencapai Rp 8 triliun. Pihak AS menghibahkan dana sebesar 165,6 juta dollar AS untuk jangka waktu 5 tahun pada periode 2010-2014.
"Ini bukan pinjaman, tetapi dana hibah. Indonesia juga menawarkan 100 beasiswa bagi mahasiswa asing yang ingin menuntut ilmu di Indonesia, seperti AS dan negara-negara nonblok," tandas Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat (19/11/2010) kemarin.
Saat ini, menurut Nuh, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS menurun 1,1 persen dari total 672.000 mahasiswa internasional yang belajar di AS pada 2008/2009 lalu. Ada beberapa aspek penyebab turunnya jumlah tersebut, lanjut dia, salah satunya adalah faktor dana. Biaya hidup yang tinggi dan visa pelajar sering kali menjadi hambatan studi.

"Tetapi untuk student, visa bisa diatasi dengan penguatan diplomasi antara Indonesia dan AS," ujar Nuh.
Nuh menambahkan, saat ini beberapa kerja sama yang dirangkai dengan AS meliputi penambahan alokasi dana Fulbright Indonesia Research Science and Technology, program beasiswa bagi 50 pelajar Indonesia untuk belajar 1 tahun di AS, serta English Language Training Program.
"Intinya, banyak aspek yang didapat setelah menjalin kerja sama pendidikan dengan beberapa negara, yaitu bisa saling tukar pandang dan cross culture," lanjut Nuh.
Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Jumat (19/11/2010), Indonesia mendapatkan hibah dari beberapa negara untuk pendidikan. Dalam lima tahun ke depan, komitmen hibah dari pemerintah sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Nilainya mencapai hampir Rp 8 triliun.
Belum lagi adanya tawaran beasiswa pendidikan dari China, Selandia Baru, dan negara-negara di Timur Tengah. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat.

Rabu, 17 November 2010

Mari, Kembali ke Tujuan Murni Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS - Pendidikan dan pengajaran yang telah diselenggarakan saat ini belum berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin nasional yang tangguh melaksanakan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Pada tataran kenegaraan, peran negara sebagai "Negara Pengurus" yang harus melaksanakangood governance masih jauh untuk dikatakan berhasil.

Demikian dipaparkan oleh pengamat ekonomi Sri-Edi Swasono dalam orasi ilmiahnya memperingati Dies Natalis XXV, Wisuda Sarjana XXIII, serta Wisuda Pascasarjana X Universitas Mercu Buana, Senin (15/11/2010), di Plenarry Hall-JCC, Jakarta. Sri-Edi mengungkapkan, nyaris semua persoalan-persoalan negara tidak selesai, yang bahkan terus bertambah tanpa ditangani dengan baik, mulai dari urusan kedaulatan negara, bencana alam, hingga korupsi sebagai biang keladi terparah dalam pemerintahan RI saat ini.

"Apakah ada masalah korupsi yang benar-benar bisa selesai sampai akhirnya muncul kasus korupsi yang lain seperti Century hingga Gayus. Bahkan, di tengah-tengah kita memperingati Hari Pahlawan saat ini, kita harus Krakatau Steel. Kita memang tidak punya good governance," ujar Sri-Edi.
Dia mengatakan, pemahaman yang dangkal tentang pendidikan internasional selama ini membawa kita melupakan pendidikan karakter bangsa sendiri. Pengembangan karakter bagi anak-anak bangsa sejak dini hingga di perguruan tinggi sangat diperlukan, terutama dalam kaitannya dengan upaya pembentukan rasa cinta Tanah Air, memelihara kebersamaan dan semangat kekeluargaan.
"Tugas utama pendidikan kita adalah membina watak, membangun karakter. Lebih khusus dari itu, tujuan pendidikan kita yang murni adalah menyusun harga pribadi pada jiwa seorang pelajar," tukasnya.
Kalau tujuan pendidikan tersebut tidak dipegang teguh, lanjut Sri-Edi, maka pendidikan tersebut merupakan konsep dan tujuan pendidikan yang setengah-setengah dan cacat.

Senin, 15 November 2010

Sebagian Umat Shalat Idul Adha Pagi Ini

JAKARTA, KOMPAS - Sebagian umat Islam di Jakarta menjalankan shalat Idul Adha pada Selasa (16/11/2010) ini, meski pemerintah menetapkannya jatuh pada Rabu (17/11/2010) besok.
Hal itu tampak dari ribuan umat yang berdatangan ke halaman Masjid Al Furqon, kompleks Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Di sana akan digelar shalat Idul Adha dengan khatib Adian Husaini.

Karena tak cukup di halaman masjid, ada juga yang menempati lantai 2 dan 3 masjid untuk melakukan shalat.
Di tempat lain, sejumlah masjid juga melaksanakan shalat Idul Adha, seperti Masjid Agung Al Azhar di Kebayoran Baru dan Rawamangun dan di depan Perguruan Muhammadiyah, Jalan Kramat Raya serta beberapa tempat lainnya.
Salah seorang jamaah, Demi, mengatakan, dirinya melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Al Furqon pada Selasa karena mengikuti pelaksanaan wukuf di Arafah. "Saya ikuti standar wukuf di Arafah yang sudah digelar kemarin (15/11/2010)," kata Demi yang hadir dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Muhammadiyah melalui Maklumat PP Muhammadiyah nomor: 05/MLM/I.0/E/2010, telah menetapkan penetapan tanggal 10 Dzulhijjah atau hari Idul Adha jatuh pada tanggal 16 November 2010.
Terkait dengan adanya perbedaan dengan penetapan Idul Adha yang ditetapkan oleh pemerintah, maka diimbau kepada warga Muhammadiyah untuk tidak menjadikan perbedaan ini menjadi sebuah yang hal yang berefek negatif, terlebih kejadian serupa telah tering terjadi.

Kamis, 11 November 2010

Gayus Bukan? Gampang Banget Buktikannya!

JAKARTA, KOMPAS — Foto mirip Gayus Halomoan Tambunan, terdakwa kasus penggelapan pajak, masih terus menjadi polemik. Belum ada yang memastikan apakah foto tersebut Gayus atau bukan. Gayus sendiri bersikukuh bahwa yang ada di dalam foto yang diambil fotografer Kompas, Agus Susanto, itu bukan dia.

Padahal, untuk menentukan foto tersebut Gayus atau bukan sebenarnya bukan hal yang sulit. Hanya dengan software komparasi yang membandingkan pola muka seseorang dapat ditentukan apakah sosok dalam foto tersebut Gayus atau bukan. Hal tersebut dikatakan pakar digital forensik Ruby Alamsyah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (11/11/2010) sore.
"Menurut saya, tidak sulit menentukan Gayus atau bukan dalam foto tersebut. Apalagi, foto diambil oleh fotografer menggunakan kamera profesional yang kualitasnya tinggi. Saya lihat ada juga foto Gayus tidak pakai kacamata," ujar Ruby. Untuk menentukannya, hanya perlu dilakukan teknik komparasi.

Ia mengatakan, sejumlah media saat ini sudah banyak membandingkan foto jepretan Agus Susanto dan foto Gayus yang telah diketahui. Hanya saja, perbandingan yang dilakukan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum karena foto yang dibandingkan bukan aslinya dan sudah mengalami perubahan resolusi.

"Ada software khusus. Tidak dijual bebas. Harganya mahal. Memang khusus untuk digital forensik," katanya. Ia menjelaskan, software tersebut menggunakan algoritma yang akan mengkalkulasi pola muka dua foto berbeda. Salah satunya foto yang sudah diketahui (known source) dan foto yang belum diketahui (unknown source). Pada dasarnya, teknik yang digunakan sama dengan komparasi audio atau video.

Ruby menjelaskan, software tersebut akan memeriksa bentuk mata, hidung, dan bagian-bagian menonjol lainnya di titik-titik tertentu secara mendetail. Bahkan, menurut Ruby, wajah seseorang yang telah dioperasi plastik tetap dapat dideteksi oleh software semacam ini dengan teknik komparasi yang lebih cermat.

"Kalau tingkat acceptance-nya besar, bisa dipastikan foto tersebut orang yang sama atau bukan. Ilmuwan menentukan di atas 50 persen, 90 persen, tergantung mazhab yang digunakan," kata Ruby. Menurutnya, hasil komparasi seperti ini bisa dipakai sebagai alat bukti penyidikan dan di pengadilan karena telah diterima hukum di Indonesia.

Namun, saat ditanya apakah dalam foto tersebut Gayus atau bukan, Ruby enggan berkomentar. Ia mengaku belum menerima sumber asli foto yang harus dibandingkan dan hanya akan memublikasikan hasilnya jika diminta pihak berwenang karena hal tersebut sudah masuk ke ranah hukum.