Minggu, 21 November 2010

HIBAH DANA PENDIDIKAN 165,6 Juta Dollar AS

JAKARTA, KOMPAS — Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang cukup besar memberikan dana hibah untuk pendidikan di Indonesia di antara beberapa negara yang baru saja menandatangani kerja sama dengan Indonesia hingga totalnya mencapai Rp 8 triliun. Pihak AS menghibahkan dana sebesar 165,6 juta dollar AS untuk jangka waktu 5 tahun pada periode 2010-2014.
"Ini bukan pinjaman, tetapi dana hibah. Indonesia juga menawarkan 100 beasiswa bagi mahasiswa asing yang ingin menuntut ilmu di Indonesia, seperti AS dan negara-negara nonblok," tandas Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat (19/11/2010) kemarin.
Saat ini, menurut Nuh, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS menurun 1,1 persen dari total 672.000 mahasiswa internasional yang belajar di AS pada 2008/2009 lalu. Ada beberapa aspek penyebab turunnya jumlah tersebut, lanjut dia, salah satunya adalah faktor dana. Biaya hidup yang tinggi dan visa pelajar sering kali menjadi hambatan studi.

"Tetapi untuk student, visa bisa diatasi dengan penguatan diplomasi antara Indonesia dan AS," ujar Nuh.
Nuh menambahkan, saat ini beberapa kerja sama yang dirangkai dengan AS meliputi penambahan alokasi dana Fulbright Indonesia Research Science and Technology, program beasiswa bagi 50 pelajar Indonesia untuk belajar 1 tahun di AS, serta English Language Training Program.
"Intinya, banyak aspek yang didapat setelah menjalin kerja sama pendidikan dengan beberapa negara, yaitu bisa saling tukar pandang dan cross culture," lanjut Nuh.
Diberitakan sebelumnya di Kompas.com, Jumat (19/11/2010), Indonesia mendapatkan hibah dari beberapa negara untuk pendidikan. Dalam lima tahun ke depan, komitmen hibah dari pemerintah sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Nilainya mencapai hampir Rp 8 triliun.
Belum lagi adanya tawaran beasiswa pendidikan dari China, Selandia Baru, dan negara-negara di Timur Tengah. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat.

Rabu, 17 November 2010

Mari, Kembali ke Tujuan Murni Pendidikan

JAKARTA, KOMPAS - Pendidikan dan pengajaran yang telah diselenggarakan saat ini belum berhasil melahirkan pemimpin-pemimpin nasional yang tangguh melaksanakan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Pada tataran kenegaraan, peran negara sebagai "Negara Pengurus" yang harus melaksanakangood governance masih jauh untuk dikatakan berhasil.

Demikian dipaparkan oleh pengamat ekonomi Sri-Edi Swasono dalam orasi ilmiahnya memperingati Dies Natalis XXV, Wisuda Sarjana XXIII, serta Wisuda Pascasarjana X Universitas Mercu Buana, Senin (15/11/2010), di Plenarry Hall-JCC, Jakarta. Sri-Edi mengungkapkan, nyaris semua persoalan-persoalan negara tidak selesai, yang bahkan terus bertambah tanpa ditangani dengan baik, mulai dari urusan kedaulatan negara, bencana alam, hingga korupsi sebagai biang keladi terparah dalam pemerintahan RI saat ini.

"Apakah ada masalah korupsi yang benar-benar bisa selesai sampai akhirnya muncul kasus korupsi yang lain seperti Century hingga Gayus. Bahkan, di tengah-tengah kita memperingati Hari Pahlawan saat ini, kita harus Krakatau Steel. Kita memang tidak punya good governance," ujar Sri-Edi.
Dia mengatakan, pemahaman yang dangkal tentang pendidikan internasional selama ini membawa kita melupakan pendidikan karakter bangsa sendiri. Pengembangan karakter bagi anak-anak bangsa sejak dini hingga di perguruan tinggi sangat diperlukan, terutama dalam kaitannya dengan upaya pembentukan rasa cinta Tanah Air, memelihara kebersamaan dan semangat kekeluargaan.
"Tugas utama pendidikan kita adalah membina watak, membangun karakter. Lebih khusus dari itu, tujuan pendidikan kita yang murni adalah menyusun harga pribadi pada jiwa seorang pelajar," tukasnya.
Kalau tujuan pendidikan tersebut tidak dipegang teguh, lanjut Sri-Edi, maka pendidikan tersebut merupakan konsep dan tujuan pendidikan yang setengah-setengah dan cacat.

Senin, 15 November 2010

Sebagian Umat Shalat Idul Adha Pagi Ini

JAKARTA, KOMPAS - Sebagian umat Islam di Jakarta menjalankan shalat Idul Adha pada Selasa (16/11/2010) ini, meski pemerintah menetapkannya jatuh pada Rabu (17/11/2010) besok.
Hal itu tampak dari ribuan umat yang berdatangan ke halaman Masjid Al Furqon, kompleks Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Di sana akan digelar shalat Idul Adha dengan khatib Adian Husaini.

Karena tak cukup di halaman masjid, ada juga yang menempati lantai 2 dan 3 masjid untuk melakukan shalat.
Di tempat lain, sejumlah masjid juga melaksanakan shalat Idul Adha, seperti Masjid Agung Al Azhar di Kebayoran Baru dan Rawamangun dan di depan Perguruan Muhammadiyah, Jalan Kramat Raya serta beberapa tempat lainnya.
Salah seorang jamaah, Demi, mengatakan, dirinya melaksanakan shalat Idul Adha di Masjid Al Furqon pada Selasa karena mengikuti pelaksanaan wukuf di Arafah. "Saya ikuti standar wukuf di Arafah yang sudah digelar kemarin (15/11/2010)," kata Demi yang hadir dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Muhammadiyah melalui Maklumat PP Muhammadiyah nomor: 05/MLM/I.0/E/2010, telah menetapkan penetapan tanggal 10 Dzulhijjah atau hari Idul Adha jatuh pada tanggal 16 November 2010.
Terkait dengan adanya perbedaan dengan penetapan Idul Adha yang ditetapkan oleh pemerintah, maka diimbau kepada warga Muhammadiyah untuk tidak menjadikan perbedaan ini menjadi sebuah yang hal yang berefek negatif, terlebih kejadian serupa telah tering terjadi.

Kamis, 11 November 2010

Gayus Bukan? Gampang Banget Buktikannya!

JAKARTA, KOMPAS — Foto mirip Gayus Halomoan Tambunan, terdakwa kasus penggelapan pajak, masih terus menjadi polemik. Belum ada yang memastikan apakah foto tersebut Gayus atau bukan. Gayus sendiri bersikukuh bahwa yang ada di dalam foto yang diambil fotografer Kompas, Agus Susanto, itu bukan dia.

Padahal, untuk menentukan foto tersebut Gayus atau bukan sebenarnya bukan hal yang sulit. Hanya dengan software komparasi yang membandingkan pola muka seseorang dapat ditentukan apakah sosok dalam foto tersebut Gayus atau bukan. Hal tersebut dikatakan pakar digital forensik Ruby Alamsyah saat dihubungi Kompas.com, Kamis (11/11/2010) sore.
"Menurut saya, tidak sulit menentukan Gayus atau bukan dalam foto tersebut. Apalagi, foto diambil oleh fotografer menggunakan kamera profesional yang kualitasnya tinggi. Saya lihat ada juga foto Gayus tidak pakai kacamata," ujar Ruby. Untuk menentukannya, hanya perlu dilakukan teknik komparasi.

Ia mengatakan, sejumlah media saat ini sudah banyak membandingkan foto jepretan Agus Susanto dan foto Gayus yang telah diketahui. Hanya saja, perbandingan yang dilakukan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum karena foto yang dibandingkan bukan aslinya dan sudah mengalami perubahan resolusi.

"Ada software khusus. Tidak dijual bebas. Harganya mahal. Memang khusus untuk digital forensik," katanya. Ia menjelaskan, software tersebut menggunakan algoritma yang akan mengkalkulasi pola muka dua foto berbeda. Salah satunya foto yang sudah diketahui (known source) dan foto yang belum diketahui (unknown source). Pada dasarnya, teknik yang digunakan sama dengan komparasi audio atau video.

Ruby menjelaskan, software tersebut akan memeriksa bentuk mata, hidung, dan bagian-bagian menonjol lainnya di titik-titik tertentu secara mendetail. Bahkan, menurut Ruby, wajah seseorang yang telah dioperasi plastik tetap dapat dideteksi oleh software semacam ini dengan teknik komparasi yang lebih cermat.

"Kalau tingkat acceptance-nya besar, bisa dipastikan foto tersebut orang yang sama atau bukan. Ilmuwan menentukan di atas 50 persen, 90 persen, tergantung mazhab yang digunakan," kata Ruby. Menurutnya, hasil komparasi seperti ini bisa dipakai sebagai alat bukti penyidikan dan di pengadilan karena telah diterima hukum di Indonesia.

Namun, saat ditanya apakah dalam foto tersebut Gayus atau bukan, Ruby enggan berkomentar. Ia mengaku belum menerima sumber asli foto yang harus dibandingkan dan hanya akan memublikasikan hasilnya jika diminta pihak berwenang karena hal tersebut sudah masuk ke ranah hukum.

Selasa, 09 November 2010

Obama: Terima Kasih dan Assalamualaikum

JAKARTA, KOMPAS — Mengakhiri pidatonya dalam jumpa pers di Istana Merdeka petang ini, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengucapkan terima kasih dan assalamualaikum.
Dalam pidato di hadapan wartawan, Obama banyak memberikan dukungan terhadap Indonesia, antara lain dalam hal memerangi korupsi dan terorisme. Ia juga mendukung sikap Indonesia terkait krisis demokrasi di Myanmar.

Pada awal pidatonya, ia sempat menyinggung kemajuan Indonesia. Ketika ia kecil di Indonesia, katanya, cuma ada Sarinah (MH Thamrin), tetapi saat ini banyak gedung-gedung tinggi di Jakarta.
Selanjutnya, ia banyak berbicara soal hubungan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat, investasi, serta kerja sama bilateral, baik di bidang ekonomi maupun sosial, seperti pendidikan dan kesejahteraan.
Ia juga menyinggung soal posisi Indonesia sebagai negara kepulauan yang pasti akan berada pada garis terdepan di bidang perubahan iklim. Selain itu, Obama juga sangat mendukung penyelenggaraan konferensi negara-negara penghasil minyak, OPEC, di Indonesia.

Secret Service, Perisai Presiden AS

JAKARTA, KOMPAS — Hiruk pikuk di sekitar kegiatan atau kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS), sebagaimana halnya dalam kunjungan dua hari Presiden Barack Obama ke Jakarta kali ini, tidak lepas dari amatan para pria berjas hitam, berkacamata gelap, dan berbadan tegap yang setia menyertai sang presiden. Mereka adalah agen-agen pilihan yang bernaung di bawah Presidential Protection Details (PPD) yang merupakan unit dari US Secret Service (USSS). Mereka menjadi perisai hidup Presiden AS dari kemungkinan serangan.
Presiden AS, dalam sejarah keberadaan negara itu, sudah beberapa kali menjadi target serangan. Sejak tahun 1960-an, misalnya, Presiden John F Kennedy (terbunuh), Gerald Ford (dua kali diserang, tetapi tidak terluka), dan Ronald Reagan (mengalami luka serius) telah menjadi korban saat tampil di depan umum. Bahkan, setiap hari Presiden AS menghadapi berbagai macam ancaman pembunuhan, baik ancaman jenis konvensional, seperti penembakan seperti yang dialami Presiden Ronald Reagan dan John F Kennedy, maupun ancaman pembunuhan yang disampaikan lewat telepon serta surat. Obama, misalnya, yang menjadi presiden kulit hitam pertama AS, sehari bisa mendapat ancaman sampai 300 kali.

Alasan para pelaku beragam. Majalah Commando edisi April 2010 melaporkan, para pelaku ada yang bermotif kedongkolan secara politik terhadap sang presiden, tetapi ada pula yang karena gangguan seksual seperti yang dilakukan seorang homoseksual di Washington. Ia bermaksud membunuh Presiden Ronald Reagan hanya agar bisa dijebloskan kembali ke penjara. Usut punya usut, rupanya ia sangat merindukan kekasih sesama jenisnya yang masih mendekam di penjara. 

Secret Service dengan semboyannya Worthy of Trust and Confidence (Layak Dipercaya dan Diandalkan) merupakan satu-satunya lembaga dengan tugas dan tanggung jawab unik. Sejak dibentuk pada 5 Juli 1865, tidak ada kata santai bagi Secret Service dalam tugas sebagai perisai Presiden AS. 

Uniknya, lembaga itu awalnya tidak dibentuk sebagai pengawal presiden. Secret Service merupakan lembaga penegak hukum federal yang merupakan bagian dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS. Para anggotanya dibagi antara Agen Khusus dan Divisi Berseragam. Hingga 1 Maret 2003, Secret Service merupakan bagian dari Departemen Keuangan. Lembaga itu kini memiliki dua bidang tanggung jawab yang berbeda. Pertama, peran keuangan yang meliputi misi seperti mencegah dan menginvestigasi pemalsuan mata uang AS dan surat-surat berharga serta penyelidikan penipuan besar. Kedua, peran keamanan, yaitu memastikan keselamatan pemimpin nasional saat ini dan mantan presiden serta keluarganya, seperti presiden, mantan presiden, wakil presiden, dan calon presiden AS. 

Tanggung jawab awal Secret Service adalah menyelidiki kejahatan yang berkaitan dengan Departemen Keuangan dan kemudian berkembang menjadi bagian intelijen dalam negeri dan badan kontra-intelijen. Banyak misi badan itu kemudian diambil alih oleh lembaga seperti FBI, ATF, dan IRS.

Misi investigasi utama Secret Service adalah untuk menjaga sistem pembayaran dan keuangan AS, hal ini antara lain mencakup kejahatan yang melibatkan penipuan oleh lembaga keuangan, penipuan komputer dan telekomunikasi, dokumen-dokumen identifikasi palsu, transfer dana elektronik, dan pencucian uang.

Namun, setelah pembunuhan Presiden William McKinley tahun 1901, Kongres mengarahkan Secret Service untuk melindungi Presiden AS. Saat ini, Secret Service secara hukum berwenang untuk melindungi presiden, wakil presiden, presiden dan wakil presiden terpilih; keluarga langsung dari individu-individu yang telah disebut pada poin terdahulu; serta mantan presiden dan pasangan mereka sepanjang hidupnya, kecuali jika pasangan itu menikah lagi. Tahun 1997, undang-undang membatasi perlindungan USSS untuk mantan presiden hanya untuk jangka waktu tidak lebih dari 10 tahun sejak mantan presiden meninggalkan Gedung Putih; anak-anak dari mantan presiden sampai usia 16 tahun atau 5 tahun setelah masa jabatan presiden habis; mantan wakil presiden sampai 6 bulan setelah jabatan berakhir (Sekretaris Keamanan Dalam Negeri dapat memperpanjang waktu perlindungan); serta keluarga mantan wakil presiden sampai 6 bulan setelah masa jabatan berakhir.

Kisah heroik 
Peristiwa pembunuhan Kennedy menyimpan kisah tentang keberanian seorang agen Secret Service, Clint Hill, yang melindungi Nyonya Kennedy. Hill berada dalam kendaraan di belakang limusin Presiden John F Kennedy saat penembakan terjadi. Saat penembakan berlanjut, Hill melompat dari kendaraannya yang sedang melaju ke bagian belakang mobil kepresidenan yang juga terus bergerak untuk memandu Nyonya Kennedy menuju ke jok belakang mobil. Dia kemudian melindungi Presiden dan Ibu Negara dengan tubuhnya sampai mobil itu tiba di rumah sakit.

Meski mereka merupakan orang-orang pilihan yang telah melewati proses seleksi dan latihan ketat yang memakan waktu berbulan-bulan di markas besar USSS, mereka tetap manusia yang tidak luput dari kesalahan. Kasus kecolongan beberapa kali terjadi, di antaranya ada yang fatal, seperti yang menimpa John F Kennedy itu.

Kasus paling akhir yang sangat memalukan adalah penyusupan yang dilakukan oleh pasangan Michelle dan Tareq Salahi pada acara jamuan makan malam yang diadakan Presiden Obama untuk tamunya, Perdana Menteri India Manmohan Singh, beberapa waktu lalu. Pasangan itu dengan leluasa menghadiri acara makan malam tersebut, lalu bersalaman, berfoto-foto dengan tampang riang bersama Obama, kemudian mengunduh foto-foto tersebut di laman mereka di Facebook. Padahal, mereka merupakan tamu tak diundang yang hanya ingin terkenal.

Obama Mau Makan Soto Ayam Pinggir Jalan

JAKARTA, KOMPAS — Empat tahun lebih kurang si kecil Barry (julukan akrab Presiden Amerika Serikat Barack Obama) hidup di Jakarta dan belajar di sekolah Katolik SD Fransiscus Asisi di Tebet serta Sekolah Dasar Negeri 1 (SD Besuki) di Menteng. Atas pengalamannya hidup di Jakarta sampai usia 10 tahun sejak 1967 ini, banyak orang Indonesia berharap Obama akan melakukan banyak hal untuk Indonesia.

Berikut ini petikan wawancara tertulis Kompasdengan Obama, Selasa (9/11), semasa Presiden Amerika Serikat ini masih melakukan kunjungan tiga harinya 
di India.
Bagaimana perasaan Anda bisa datang lagi ke Indonesia?

Pulang kampung nih! (I’ve come back to my hometown!) Saya melewatkan sebagian masa kecil saya yang indah di Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia menjadi bagian dari diri saya....

Saya sungguh senang bisa kembali di negeri yang indah ini dan menunjukkan kepada Michelle kota tempat dulu saya pernah tinggal.

Kalau saja bisa, suatu ketika nanti pengin saya kembali ke sini sebagai warga biasa sehingga saya bisa berjalan-jalan dengan bebas, mengunjungi teman-teman lama, dan berhenti di pinggir jalan untuk makan soto ayam....

Meskipun demikian, kepentingan AS yang kuat dan berkembang di Indonesia tidak berakar dari perasaan pribadi saya. Akan tetapi, atas dasar kepentingan timbal balik antara dua negara dan atas dasar nilai-nilai bersama.

Indonesia adalah negeri dengan penduduk terbanyak keempat di dunia dan negara demokrasi terbesar ketiga yang berperan penting di kelompok negara-negara G-20, serta di berbagai institusi global dan regional. Banyak tantangan internasional, seperti menjaga lingkungan, tak bisa diatasi tanpa kontribusi aktif dari Indonesia.

Lebih dari itu, baik AS maupun Indonesia sama-sama berbagi nilai-nilai, termasuk komitmen akan pemerintahan yang demokratis, serta dedikasi untuk toleransi dan pluralisme bagi rakyat dengan berbagai suku dan agama, yang sama-sama bertujuan membentuk satu bangsa yang hidup dalam harmoni.

Jadi, AS mempunyai taruhan besar dalam kesuksesan di Indonesia, dan juga melalui Kemitraan Komprehensif yang baru di antara AS dan Indonesia. Kami akan mengupayakan hal-hal yang bisa membantu Indonesia agar makmur dan berkembang lebih kuat.

Lalu, apa yang bisa diharapkan oleh rakyat Indonesia dengan kunjungan Anda kali ini?

Saya berharap kunjungan saya kali ini bisa meyakinkan rakyat Indonesia bahwa AS memandang Indonesia sebagai seorang teman yang menaruh perhatian lebih besar dari sebelumnya untuk meningkatkan hubungan kedua negara.

Kami banyak belajar dari Indonesia, sebagai sesama negara demokrasi, sebagai sebuah bangsa yang merengkuh warga dari banyak suku dan agama, yang mewarisi dari sebuah warisan budaya yang kaya.

Saya masih berharap akan melanjutkan pembicaraan dengan Presiden (Susilo Bambang) Yudhoyono serta mendengarkan advis-nya. Saya juga berharap bangsa Indonesia akan melihat Kemitraan Komprehensif yang baru saja kami bangun sebagai awal dari era baru dari hubungan kedua negara.

Dan akhirnya, penanganan ekonomi serta pertumbuhan Indonesia yang dinamis menyuguhkan kesempatan baik untuk (mewujudkan) perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan dalam kemitraan bisnis dengan pebisnis-pebisnis Amerika Serikat.

(Kami) berharap juga akan iklim bisnis yang lebih baik, terutama di wilayah penegakan hukum dan akses yang lebih terbuka sehingga akan menarik lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, serta akan berkontribusi bagi keberhasilan ekonomi Indonesia yang lebih besar lagi....